Narasi akhir zaman bukanlah tentang ledakan atau benturan meteor yang bising. Seringkali, ia dimulai dari kesunyian yang mencekam. Satu demi satu, orang-orang shalih mereka yang kehadirannya membawa kedamaian dipanggil pulang oleh pemilik-Nya. Setiap kali satu lentera keshalihan padam, dunia menjadi sedikit lebih gelap. Kita yang ditinggalkan seringkali tidak sadar, terlalu sibuk dengan gawai dan ambisi, sampai akhirnya kita terbangun dan menyadari bahwa kita hanya tinggal sendirian di tengah ruang yang asing. Lalu, apa yang terjadi ketika gandum dan kurma terbaik itu telah habis diambil? Dunia akan dipenuhi oleh hutsalah—para ampas. Dari Mirdas al-Aslamiy RA ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang-orang shalih akan pergi (wafat) satu demi satu, hingga yang tersisa adalah orang-orang yang jelek, kwalitasnya seperti ampas gandum atau kurma, dan Allah benar-benar tidak memperdulikan mereka." (Hr. al-Bukhariy, Kitab ar-Riqaq, Bab Dzahab ash-Shalihin, hadits no. 6434). Hadits Mirdas al-Aslamiy ini menelanjangi realitas akhir zaman dengan perumpamaan yang sangat tajam dan mendalam. Kalimat "Orang-orang shalih akan pergi satu demi satu" menunjukkan sebuah proses pengurangan yang konsisten.Mereka wafat bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai dicabutnya rahmat, ilmu, dan keberkahan dari muka bumi. "Jika orang-orang shalih telah tiada, maka yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang tidak memiliki kebaikan. Pada saat itulah musibah akan datang bertubi-tubi, dan bumi akan menyempit bagi penduduknya karena hilangnya keberkahan." — Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (Penulis Kitab Fathul Baari) Hadits ini tidak diturunkan untuk membuat kita menyerah pada keadaan dan meratapi zaman. Hadits ini adalah sebuah peringatan navigasi. Saat ayakan zaman itu sedang bergerak maju dan menyaring manusia, kita dihadapkan pada satu pilihan krusial. Apakah kita akan membiarkan diri kita ikut menjadi ampas yang ringan, kosong, dan akhirnya dicampakkan? Ataukah kita memilih untuk bertahan menjadi sisa-sisa "gandum dan kurma" yang berisi? Namun, bagian paling menyayat hati dari nubuat ini bukanlah tentang betapa buruknya kualitas manusia yang tersisa. Bagian paling mengerikan adalah kalimat penutupnya: "...dan Allah benar-benar tidak memperdulikan mereka." Inilah titik nadir dari eksistensi manusia. Ketika Allah, Sang Pencipta, memalingkan wajah-Nya dan tidak lagi peduli. Tanpa perlindungan dan rahmat Allah, manusia-manusia ampas ini akan binasa dalam fatamorgana dunia yang mereka kejar sendiri. Mereka merasa sedang membangun peradaban, padahal sedang menggali kuburan mereka sendiri. Menjadi shalih di tengah kepungan ampas memang melelahkan dan terasa asing. Namun, itulah satu-satunya cara agar kita tetap "diperdulikan" oleh Allah. Di zaman ketika orang shalih mulai langka, kuatkan pegangan pada iman. Keshalihan harus jadi pijakan dan pertimbangan dalam memberi amanah untuk mewujudkan kemaslahatan umat. Jangan biarkan badai akhir zaman mengikis bobot spiritual kita, hingga kita tak lebih dari sekadar kulit kering yang ditiup angin tanpa arah.